Kamis, 23 Januari 2025

 

Liburan Perpisahan Kelas

Libur akhir tahun semakin dekat, siswa kelas enam akan mengadakan rapat untuk membahas agenda liburan bersama. Agenda ini juga telah mereka persiapkan sejak awal tahun dengan menabung setiap minggunya. Rika sebagai ketua kelas mulai memimpin jalannya rapat.

“Baiklah teman-teman. Mari kita mulai rapat kali ini dengan mengusulkan tujuan liburan kita. Aku minta Puput sebagai sekertaris kelas untuk menulisnya di papan tulis.” Rika mempersilahkan Puput maju ke depan.

“Siap ketua!” Puput maju ke depan papan tulis.

Tiba-tiba Tegar mengangkat tangan. Dia berbicara setelah Rika mempersilahkan.

“Begini ketua, menurutku kita harus memastikan terlebih dahulu apakah semua setuju untuk berlibur ke luar kota. Bisa jadi di antara kita sebenarnya ada yang keberatan karena suatu hal. Atau mungkin kita bisa mengganti liburan perpisahan kelas dengan acara makan-makan di rumah ketua.” Tegar tersenyum.

“Lho, kok jadi makan-makan di rumahku? Dari awal tahun ajaran kan kita sudah sepakat untuk keperluan ini. Iya, kan Tia? “ Rika meminta dukungan ke bendahara kelas.

Sambil mengangguk, Tia berkata “Betul ketua, awal tahun ajaran kita sudah sepakat.”

Fadli menyahutnya dengan berkata ”Kamu tidak boleh begitu ketua. Sebaiknya kita mendengarkan dulu alasan dari teman-teman yang mungkin tidak mau ikut liburan. Kita tidak bisa memaksa, kan?”

“Baiklah, jika seperti itu. Aku meminta kepada teman-teman semuanya yang tidak setuju dengan liburan perpisahan kelas tolong angkat tangan dan berikan alasannya kenapa” Rika bertanya dengan lantang.

Terlihat Yulia, Isna, dan Santi mengangkat tangan.

“Jika naik bus, aku takut mabuk kendaraan ketua. Nanti di sana bukannya liburan, tapi malah masuk angin.” Kata Santi.

Tegar menyahut dengan berkata, “Aku juga mabuk kendaraan, Santi. Tapi aku mengantisipasinya dengan minum obat anti mabuk dan minta untuk duduk di depan.”

Fadli menimpali dengan berkata, “Duduk di depan pak sopir, Tegar?”.

Sontak kelas pun menjadi ramai karena semua langsung tertawa tak terkecuali Tegar pun juga ikut tertawa. Rika pun menenangkan teman-temannya dan melanjutkan rapat, “Baik, kita lanjutkan teman-teman. Jadi permasalahan Santi sudah terselesaikan ya. Lebih baik Santi sebelum naik bus, dari rumah minum obat anti mabuk dulu. Dan nanti Santi dan Tegar duduknya di kursi bagian depan atau jika teman-teman yang lain merasa mabuk kendaraan bisa duduk di kursi bagian depan. Sekarang Isna, apa alasanmu tidak setuju berlibur?”

“Aku mau bilang tapi malu ketua.” Jawab Isna.

“Malu kenapa Isna? Jika kamu memang tidak bisa, kita tidak memaksa. Tapi jika kamu ada masalah seperti Santi dan Tegar, kita carikan solusinya bersama”. Tanya Rika.

“Rencananya besok aku mau khitan, tapi sebenarnya aku masih agak takut. Jadi aku bingung mau ikut liburan atau khitan.” Jawab Isna.

“Bagaimana teman-teman? ada yang punya solusi?” Rika melempar pertanyaan ke teman-temannya.

“Sebaiknya Isna khitan setelah liburan perpisahan kelas saja, mumpung liburnya panjang masih ada waktu. Nanti aku mau bilang ke ayahku untuk khitan sama kamu setelah kita liburan. Aku juga pengen di khitan, tapi masih takut.” Sahut Abdul.

“Boleh juga dul. Aku makin berani kalau ada temannya.” Jawab Isna.

“Nah, kamu sekarang setuju liburan kan, Isna?” tanya Rika.

“Siap ketua, Aku setuju” Jawab Isna.

“Sekarang Yulia. kenapa kamu tidak setuju liburan?” tanya Rika.

“Aku ... aku cuma tidak yakin apakah aku akan suka dengan tujuan liburan kita.”

Seketika teman-teman bergumam dan berkomentar. Rika mengetuk meja yang ada di depannya dan meminta teman-temannya untuk tenang. “Karena permasalahan Yulia ada pada tempat tujuan liburan, dan mayoritas semuanya telah setuju untuk liburan. Mari kita tentukan tujuan liburan kita terlebih dahulu. Bagaimana Yulia? bagaimana teman-teman?” tanya Rika.

Teman-teman kompak menjawab setuju, dan mereka mulai mengusulkan tujuan liburan. Puput mencatat semua tujuan yang diusulkan, diantaranya Bali, Banyuwangi, Malang, Lombok, Yogyakarta, Semarang, Dieng, Bandung dan Jakarta.

Setelah lama berdiskusi, akhirnya ditetapkan tiga pilihan liburan yaitu Yogyakarta, Dieng dan Bandung. Selanjutnya, Rika mempersilakan teman-temannya untuk memberikan pendapat tentang destinasi liburan pilihan mereka masing-masing.

 “Aku pilih Yogyakarta karena aku ingin melihat Keraton, Taman Sari, Taman Pintar, Museum Benteng Vredeberg dan aku juga ingin mencicipi gudeg asli Yogyakarta,” kata Anisa.

“Aku juga pilih Yogyakarta karnea ingin ke Gembira Loka dan Pasar Beringharjo,” kata Nimas.

Beberapa teman lainnya juga mengungkapkan pendapatnya. Sebagian besar siswa memilih Yogyakarta. Ada juga yang ingin ke Dieng karena ingin merasakan hawa sejuk khas dataran tinggi Dieng dan melihat keindahan alam Kawah Si Kidang. Semua pendapat ditampung oleh Rika dan dicatat oleh Puput di papan tulis.

“Sepertinya sebagian besar memilih Yogyakarta sebagai tujuan liburan kita. Apakah
kita sepakat untuk liburan ke Yogyakarta?” tanya Rika.

“Sebentar, sebentar! Kan tidak semua ingin ke Yogyakarta. Coba kita tanya dulu
pendapat yang lain,” Yulia berpendapat.

Kelas kembali riuh. Nama-nama kota lain kembali disebut. Usul kembali bermunculan. Akhirnya, siswa kelas enam melakukan pemungutan suara untuk menentukan suara terbanyak. Dari 20 siswa di kelas enam, 17 orang memilih Yogyakarta, 2 orang memilih Dieng, 0 orang memilih Bandung, dan 1 orang abstain atau tidak memberikan suara. Rika tampak lega setelah kelas enam berhasil menentukan tujuan liburan. Masih banyak hal lain yang perlu dirapatkan, termasuk persiapan yang harus dilakukan oleh siswa sebelum melakukan perjalanan.

Ketika Rika kembali ke tempat duduknya, tiba-tiba Yulia maju ke depan kelas. Tanpa bicara, dia menghapus seluruh tulisan di papan tulis. Wajahnya berkerut. Bu Merni yang sejak tadi mengamati jalannya rapat kelas mendekati Yulia. “Ada apa, Yulia? Kamu tidak suka Yogyakarta?” tanya Bu Merni.

“Aku sudah pernah ke Yogyakarta beberapa kali bersama keluargaku, Bu. Aku merasa bosan ke Yogyakarta lagi. Aku ingin ke tempat tujuan yang belum pernah ku kunjungi.” Jawab Yulia.

Bu Merni tersenyum, “Itu kan kamu sama keluarga Yulia, ini sama teman-teman satu kelas. Kamu belum pernah kan ke Yogyakarta bersama teman-teman sekelas. Pasti rasanya beda, pasti lebih seru.”

Yulia pun tersenyum “Benar juga ya Bu, jika sama teman-teman satu kelas aku bisa lebih banyak bermain bisa lebih seru-seruan.”

Hari liburan pun tiba, dan seluruh siswa kelas 6 berangkat menuju Yogyakarta. Mereka menikmati setiap momen di sana, belajar tentang budaya, mengunjungi tempat-tempat bersejarah, dan tentunya mencicipi makanan khas yang lezat. Liburan itu menjadi kenangan manis yang akan selalu mereka ingat, terutama karena mereka merencanakannya bersama dengan baik.