Liburan
Perpisahan Kelas
Libur akhir tahun semakin dekat, siswa
kelas enam akan mengadakan rapat untuk membahas agenda liburan bersama. Agenda
ini juga telah mereka persiapkan sejak awal tahun dengan menabung setiap
minggunya. Rika sebagai ketua kelas mulai memimpin jalannya rapat.
“Baiklah teman-teman. Mari kita mulai rapat
kali ini dengan mengusulkan tujuan liburan kita. Aku minta Puput sebagai
sekertaris kelas untuk menulisnya di papan tulis.” Rika mempersilahkan Puput
maju ke depan.
“Siap ketua!” Puput maju ke
depan papan tulis.
Tiba-tiba Tegar mengangkat
tangan. Dia berbicara setelah Rika mempersilahkan.
“Begini ketua, menurutku kita harus
memastikan terlebih dahulu apakah semua setuju untuk berlibur ke luar kota. Bisa
jadi di antara kita sebenarnya ada yang keberatan karena suatu hal. Atau
mungkin kita bisa mengganti liburan perpisahan kelas dengan acara makan-makan
di rumah ketua.” Tegar tersenyum.
“Lho, kok jadi makan-makan di rumahku? Dari
awal tahun ajaran kan kita sudah sepakat untuk keperluan ini. Iya, kan Tia? “
Rika meminta dukungan ke bendahara kelas.
Sambil mengangguk, Tia berkata “Betul
ketua, awal tahun ajaran kita sudah sepakat.”
Fadli menyahutnya dengan berkata ”Kamu
tidak boleh begitu ketua. Sebaiknya kita mendengarkan dulu alasan dari
teman-teman yang mungkin tidak mau ikut liburan. Kita tidak bisa memaksa, kan?”
“Baiklah, jika seperti itu. Aku meminta
kepada teman-teman semuanya yang tidak setuju dengan liburan perpisahan kelas
tolong angkat tangan dan berikan alasannya kenapa” Rika bertanya dengan
lantang.
Terlihat Yulia, Isna, dan Santi mengangkat
tangan.
“Jika naik bus, aku takut mabuk kendaraan
ketua. Nanti di sana bukannya liburan, tapi malah masuk angin.” Kata Santi.
Tegar menyahut dengan berkata, “Aku juga
mabuk kendaraan, Santi. Tapi aku mengantisipasinya dengan minum obat anti mabuk
dan minta untuk duduk di depan.”
Fadli menimpali dengan berkata, “Duduk di
depan pak sopir, Tegar?”.
Sontak kelas pun menjadi ramai karena semua
langsung tertawa tak terkecuali Tegar pun juga ikut tertawa. Rika pun
menenangkan teman-temannya dan melanjutkan rapat, “Baik, kita lanjutkan
teman-teman. Jadi permasalahan Santi sudah terselesaikan ya. Lebih baik Santi
sebelum naik bus, dari rumah minum obat anti mabuk dulu. Dan nanti Santi dan
Tegar duduknya di kursi bagian depan atau jika teman-teman yang lain merasa
mabuk kendaraan bisa duduk di kursi bagian depan. Sekarang Isna, apa alasanmu
tidak setuju berlibur?”
“Aku mau bilang tapi malu ketua.” Jawab
Isna.
“Malu kenapa Isna? Jika kamu memang tidak
bisa, kita tidak memaksa. Tapi jika kamu ada masalah seperti Santi dan Tegar,
kita carikan solusinya bersama”. Tanya Rika.
“Rencananya besok aku mau khitan, tapi
sebenarnya aku masih agak takut. Jadi aku bingung mau ikut liburan atau
khitan.” Jawab Isna.
“Bagaimana teman-teman? ada yang punya
solusi?” Rika melempar pertanyaan ke teman-temannya.
“Sebaiknya Isna khitan setelah liburan
perpisahan kelas saja, mumpung liburnya panjang masih ada waktu. Nanti aku mau
bilang ke ayahku untuk khitan sama kamu setelah kita liburan. Aku juga pengen
di khitan, tapi masih takut.” Sahut Abdul.
“Boleh juga dul. Aku makin berani kalau ada
temannya.” Jawab Isna.
“Nah, kamu sekarang setuju liburan kan,
Isna?” tanya Rika.
“Siap ketua, Aku setuju” Jawab Isna.
“Sekarang Yulia. kenapa kamu tidak setuju
liburan?” tanya Rika.
“Aku ... aku cuma tidak yakin apakah aku
akan suka dengan tujuan liburan kita.”
Seketika teman-teman bergumam dan
berkomentar. Rika mengetuk meja yang ada di depannya dan meminta teman-temannya
untuk tenang. “Karena permasalahan Yulia ada pada tempat tujuan liburan, dan
mayoritas semuanya telah setuju untuk liburan. Mari kita tentukan tujuan
liburan kita terlebih dahulu. Bagaimana Yulia? bagaimana teman-teman?” tanya
Rika.
Teman-teman kompak menjawab setuju, dan mereka
mulai mengusulkan tujuan liburan. Puput mencatat semua tujuan yang diusulkan, diantaranya
Bali, Banyuwangi, Malang, Lombok, Yogyakarta, Semarang, Dieng, Bandung dan
Jakarta.
Setelah lama berdiskusi, akhirnya
ditetapkan tiga pilihan liburan yaitu Yogyakarta, Dieng dan Bandung.
Selanjutnya, Rika mempersilakan teman-temannya untuk memberikan pendapat
tentang destinasi liburan pilihan mereka masing-masing.
“Aku
pilih Yogyakarta karena aku ingin melihat Keraton, Taman Sari, Taman Pintar, Museum
Benteng Vredeberg dan aku juga ingin mencicipi gudeg asli Yogyakarta,” kata Anisa.
“Aku juga pilih Yogyakarta karnea ingin ke
Gembira Loka dan Pasar Beringharjo,” kata Nimas.
Beberapa teman lainnya juga mengungkapkan
pendapatnya. Sebagian besar siswa memilih Yogyakarta. Ada juga yang ingin ke
Dieng karena ingin merasakan hawa sejuk khas dataran tinggi Dieng dan melihat keindahan
alam Kawah Si Kidang. Semua pendapat ditampung oleh Rika dan dicatat oleh Puput
di papan tulis.
“Sepertinya sebagian besar
memilih Yogyakarta sebagai tujuan liburan kita. Apakah
kita sepakat untuk liburan ke Yogyakarta?” tanya Rika.
“Sebentar, sebentar! Kan
tidak semua ingin ke Yogyakarta. Coba kita tanya dulu
pendapat yang lain,” Yulia berpendapat.
Kelas kembali riuh. Nama-nama
kota lain kembali disebut. Usul kembali bermunculan. Akhirnya, siswa kelas enam
melakukan pemungutan suara untuk menentukan suara terbanyak. Dari 20 siswa di
kelas enam, 17 orang memilih Yogyakarta, 2 orang memilih Dieng, 0 orang memilih
Bandung, dan 1 orang abstain atau tidak memberikan suara. Rika tampak lega
setelah kelas enam berhasil menentukan tujuan liburan. Masih banyak hal lain
yang perlu dirapatkan, termasuk persiapan yang harus dilakukan oleh siswa
sebelum melakukan perjalanan.
Ketika Rika kembali ke tempat
duduknya, tiba-tiba Yulia maju ke depan kelas. Tanpa bicara, dia menghapus
seluruh tulisan di papan tulis. Wajahnya berkerut. Bu Merni yang sejak tadi
mengamati jalannya rapat kelas mendekati Yulia. “Ada apa, Yulia? Kamu tidak
suka Yogyakarta?” tanya Bu Merni.
“Aku sudah pernah ke
Yogyakarta beberapa kali bersama keluargaku, Bu. Aku merasa bosan ke Yogyakarta
lagi. Aku ingin ke tempat tujuan yang belum pernah ku kunjungi.” Jawab Yulia.
Bu Merni tersenyum, “Itu kan
kamu sama keluarga Yulia, ini sama teman-teman satu kelas. Kamu belum pernah
kan ke Yogyakarta bersama teman-teman sekelas. Pasti rasanya beda, pasti lebih
seru.”
Yulia pun tersenyum “Benar
juga ya Bu, jika sama teman-teman satu kelas aku bisa lebih banyak bermain bisa
lebih seru-seruan.”
Hari liburan pun tiba, dan seluruh siswa kelas
6 berangkat menuju Yogyakarta. Mereka menikmati setiap momen di sana, belajar
tentang budaya, mengunjungi tempat-tempat bersejarah, dan tentunya mencicipi
makanan khas yang lezat. Liburan itu menjadi kenangan manis yang akan selalu
mereka ingat, terutama karena mereka merencanakannya bersama dengan baik.